Perut Gendut Logo

Dari Dulu Sampai Sekarang Tahu Sumedang Tiada Duanya
(ksmtour.com)






Perut Gendut - Tahun ini, usia tahu Sumedang menginjak angka 100 tahun.Camilan yang menjadi ikon Kabupaten Sumedang ini rupanya telah ada sejak seabad lalu, tepatnya tahun 1917.


Berbeda dengan tahu biasa seperti tahu putih atau tahu kuning, ciri khas tahu Sumedang adalah berbentuk kotak, berwarna kecokelatan, dan bagian luarnya renyah. Lebih nikmat disantap saat masih panas bersama cabai rawit hijau.

Salah satu ciri khas dari tahu ini adalah kemasannya. Sejak zaman dahulu hingga sekarang, tahu dikemas dalam wadah dari anyaman bambu dan dilapisi daun pisang, atau disebut bongsang. Pengemasan dengan cara tersebut dapat membuat tahu lebih awet.

Tahu Sumedang juga dijual dengan harga terjangkau, rata-rata mulai Rp500 saja per buah. Satu bongsang kira-kira bisa menampung 25 sampai 100 buah tahu.


Kilas balik tahu Sumedang

Tahu Sumedang pertama kali dirintis oleh imigran asal Tiongkok yang bernama Ong Kino yang datang ke Pulau Jawa melalui pelabuhan Cirebon sekitar tahun 1999.

Ong Kino memang suka membuat tahu dengan cita rasa khas Tiongkok. Sesampainya di Sumedang, ia pun kembali membuat tahu untuk keluarga. Tak disangka, kelezatan tahu buatan Ong Kino kian tersohor. Ini karena banyak tamu yang berkunjung ke rumahnya dan mencoba sendiri tahu buatan Ong Kino.

Melihat banyaknya orang yang menyukai tahu buatannya, Ong Kino akhirnya membuat tahu dengan jumlah lebih banyak untuk dijual kepada tetangga.

Ong Bungkeng, yang merupakan anak dari Ong Kino adalah sosok penerus bisnis ayahnya. Ong Bungkeng pun berhasil memajukan usaha tahu, sehingga nama dirinya lah yang lebih terkenal. Nama tahu yang dibuat Ong Kino kini lebih dikenal masyarakat sebagai tahu Bungkeng.

Dari Dulu Sampai Sekarang Tahu Sumedang Tiada Duanya
(ceritakulinerindonesia.blogspot.co.id)



Pangeran Aria Soeriatmaja, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Sumedang, menyatakan bahwa tahu tersebut memiliki rasa yang lezat dan pasti laku di pasaran. Sosok yang dikenal karena ucapannya selalu jadi kenyataan tersebut lagi-lagi membuktikan kata-katanya. Tahu Bungkeng disukai banyak orang dan menjadi kian tersohor.


Ong Bungkeng sendiri meninggal pada tahun 1994 dan usaha tahu diteruskan oleh Ong Ce Ciang yang dikenal dengan nama Suryadi.

"Sebelum meninggal Ong Bungkeng sempat bertanya siapa yang akan melanjutkan usaha dagang tahu. Saat itu bapak saya menunjuk saya sebagai penerus Tahu Bungkeng," kata Suryadi.

Suryadi sebagai cucu dari Ong Kino, sangat bangga hasil olahan kakeknya menjadi ikon Sumedang. Menurut Suryadi, bisnis tahu Sumedang itu juga bisa menghidupi keluarganya juga juga ratusan pengusaha tahu Sumedang serta para pegawai.

Mungkin penganan tahu ini terlihat sangat sederhana. Namun, dengan ciri khasnya yang gurih dan renyah, rupanya tahu Sumedang cukup sulit dibuat di daerah lain. Bila dibuat di daerah lain, cita rasanya akan berubah.

"Tahu Sumedang itu dibuat dengan komposisi 70 persen air. Memang kandungan air yang ada di Sumedang yang membedakan hasil tahu itu," ucap Suryadi.

Selain air, Suryadi juga menjelaskan bahwa setiap perusahaan tahu mungkin memiliki bahan baku yang sama, tetapi tetap saja resepnya berbeda. Yang menentukan tahu itu enak bisa dinilai dari kualitas kedelai, cuka atau bibit tahu, serta si pemasaknya sendiri.


Penasaran mencoba kelezatan tahu Bungkeng langsung dari Sumedang? Anda bisa mendatangi cabang-cabang Tahu Bungkeng di Jalan M Abdurahman nomor 50 atau di Jalan M Abdurahman.

Selain merek Bungkeng, di Sumedang juga banyak pedagang tahu-tahu lainnya seperti tahu H Ateng, tahu Sari Kedele, dan tahu Sari Rasa. Penjual tahu mudah ditemukan di berbagai sudut Sumedang.











(sumber: beritagar.id)